ASUHAN KEPERAWATAN PADA KLIEN DENGAN POST ORIF AKIBAT FRAKTUR CRURIS

1.Latar Belakang

Insiden kecelakaan merupakan salah satu dari lima masalah kesehatan utama di negara-negara maju, modern dan industri. Kelima masalah kesehatan utama tersebut adalah kecelakaan, penyakit kardiovaskuler, kanker, penyakit degeneratif dan gangguan gangguan jiwa.
(DepkesRI,2007)

Badan kesehatan dunia (WHO) mencatat tahun 2005 terdapat lebih dari 7 juta orang meninggal dikarenakan insiden kecelakaan dan sekitar 2 juta orang mengalami kecacatan fisik. Salah satu insiden kecelakaan yang memiliki prevalensi cukup tinggi yakni insiden fraktur ekstremitas bawah yakni sekitar 46,2% dari insiden kecelekaan yang terjadi. Fraktur merupakan suatu keadaan dimana terjadi disintegritas tulang, penyebab terbanyak adalah insiden kecelakaan, tetapi faktor lain seperti proses degeneratif juga dapat berpengaruh terhadap kejadian fraktur.(Depkes RI, 2007)

2.Konsep Dasar

ORIF (Open Reduksi Internal Fiksasi),open reduksi merupakan suatu tindakan pembedahan untuk memanipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah / fraktur sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.Internal fiksasi biasanya melibatkan penggunaan plat, sekrup, paku maupun suatu intramedulary (IM) untuk mempertahan kan fragmen tulang dalam posisinya sampai penyembuhan tulang yang solid terjadi.

Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya (Brunner & Suddarth, 2001:2357).

Fraktur atau patah tulang adalah terputusnya kontinuitas jaringan tulang dan / atau tulang rawan yang umumnya disebabkan oleh rudapaksa (Arif Mansjoer, 2000:346).

Fraktur cruris adalah adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya,terjadi pada tulang tibia dan fibula. (Brunner & Suddarth, 2001).

3.Anatomi fisiologi

a.Tulang
Tulang adalah jaringan ikat yang bersifat kaku dan membentuk bagian terbesar kerangka, serta merupakan jaringan penunjang tubuh utama. (Keith L. Moore, 2002:8)
Tulang berguna untuk :
a)Melindungi struktur vital
b)Menopang tubuh
c)Mendasari gerak secara mekanis
d)Membentuk sel darah (sumsum tulang merah adalah tempat dibentuknya sel darah merah, beberapa limfosit, sel darah putih granulosit dsan trombosit)
e)Menimbun berbagai mineral (kalsium, fosfor dan magnesium)

b.Sendi
Sendi adalah suatu ruangan, tempat satu atau dua tulang berada saling berdekatan. Fungsi utama sendi adalah memberi pergerakan dan fleksibilitas dalam tubuh.

c.Otot
Otot ialah jaringan yang mempunyai kemampuan khusus yaitu berkontraksi dan dengan jalan demikian maka gerakan terlaksana. Otot dibagi dalam tiga kelompok, dengan fungsi utama untuk kontraksi dan menghasilkan pergerakan sebagain atau seluruh tubuh.

d.Ligamen
Ligamen adalah sekumpulan jaringan fibrosa yang tebal yang merupakan akhir dari suatu otot dan berfungsi mengikat suatu tulang.

e.Tendon
Tendon adalah suatu perpanjangan dari pembungkus fibrosa yang membungkus setiap otot dan berkatian dengan periosteum jaringan penyambung yang mengelilingi tendon, khususnya pada pergelanan tangan dan tumit.

f.Fasia
Fasia adalah suatu permukaan jaringan penyambung longgar yang didapatkan langsung di bawah kulit sebagai fasia superfisial (sebagai pembungkus tebal) jaringan penyambung fibrosa yang membungkus otot, saraf dan pembuluh darah.

g.Bursae
Bursae adalah suatu kantong kecil dari jaringan penyambung, yang digunakan di atas bagian yang bergerak.

4. Etiologi

a.Trauma direk (langsung), menyebabkan tulang patah pada titik terjadinya kekerasan / trauma itu, misalnya trauma akibat kecelakaan
b.Trauma indirek (tidak langsung), menyebabkan patah tulang di tempat yang jauh dari tempat tterjadinya kekerasan, yang patah biasanya bagian yang paling lemah dalam jalur hantaran vektor kekerasan.
c.Patologis, disebabkan oleh adanya proses patologis misalnya tumor, infeksi dan osteoporosis tulang karena disebabkan oleh kekuatan tulang yang berkurang dan disebut patah tulang patologis.
d.Kelelahan / stress, misalnya pada olahragawan mereka yang baru saja meningkatkan kegiatan fisik misalnya pada calon tentara.

5. Manifestasi Klinis
a.Nyeri terus-menerus dan bertambah beratnya sampai fragmen tulang diimobilisasi, hematoma, dan edema.
b.Deformitas karena adanya pergeseran fragmen tulang yang patah.
c.Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena kontraksi ototang melekat di atas dan di bawah tempat fraktur.
d.Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya.
e.Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit.

6. Penatalaksanaan
Prinsip dari penanganan patah tulang adalah :
a.Mengembalikan bentuk tulang seperti semula (Reposisi)
b.Mempertahankan posisi itu selama masa penyembuhan patah tulang (imobilisasi)
c.Mobilisasi berupa latihan-latihan seluruh sistem gerak untuk mengembalikan fungsi anggota badan seperti sebelum patah.

7.Keuntungan perawatan fraktur dengan pemasangan ORIF (Operasi) antra lain :
(1)Ketelitian reposisi fragmen-fragmen fraktur
(2)Kesempatan untuk memeriksa pembuluh darah dan saraf di sekitarnya.
(3)Stabilitas fiksasi yang cukup memadai dapat dicapai
(4)Perawatan di RS yang relatif singkat pada kasus tanpa komplikasi
(5)Potensi untuk mempertahankan fungsi sendi yang mendekati normal serta kekuatan otot selama perawatan fraktur.

8. Kerugian yang potensial juga dapat terjadi antara lain :
(1)Setiap anastesi dan operasimempunyai resiko komplikasi bahkan kematian akibat dari tindakan tersebut.
(2)Penanganan operatif memperbesar kemungkinan infeksi dibandingkan pemasangan gips atau traksi.
(3)Penggunaan stabilisasi logam interna memungkinkan kegagalan alat itu sendiri
(4)Pembedahan itu sendiri merupakan trauma pada jaringan lunak, dan struktur yang sebelumnya tak mengalami cedera mungkin akan terpotong atau mengalami kerusakan selama tindakan operasi.

9.Diagnosa keperawatan pada Post pemasangan ORIF
1)Nyeri (akut) berhubungan dengan prosedur pembedahan,pembengkakan dan immobilisasi.
Intervensi
(1) Kaji tingkat nyeri, perhatikan lokasi dan karakteristik, termasik intensitas, perhatikan petunjuk nyeri non verbal.
(2) Tinggikan dan dukung ekstremitas yang terkena.
(3) Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips, traksi.
(4) Dorong menggunakan teknik manajemen, sterss, contoh relaksasi progresif, latihan nafas dalam, imajinasi visual.
Kolaborasi.
(5) Berikan obat sesuai indikasi:analgetik

2)Resiko perubahan perfusi jaringan berhubungan dengan pembengkakan,alat yang mengikat,gangguan peredaran darah.
Intervensi
(a)Lakukan pengkajian neuromuskuler.minta pasien untuk melokalisasi nyeri.
(b)Dorong pasien untuk secara rutin untuk latihan ambulasi.
(c)Kaji adanya nyeri tekan, pembengkakan pada dorsofleksi.
(d)Awasi tanda vital.perhatikan tanda pucat, kulit dingin dan perubahan mental.

3)Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan nyeri,pembengkakan, prosedur bedah,immobilisasi.
Intervensi
(a)Dorong partisipasi pada aktivitas terapeutik.
(b)Instruksikan pasien untuk latihan rentang gerak pada ekstremitas.
(c)Berikan/bantu dalam mobilisasi dengan kursi roda, kruk, tongkat.Instruksikan keamanan dalam menggunakan alat mobilitas.
(d)Awasi TD saat beraktivitas.

4)Perubahan citra diri,harga diri atau kinerja peran berhubungan dengan dampak masalah muskuloskeletal.
Intervensi
(a)Beri penguatan informasi pasca operasi termasuk kontrol nyeri dan rehabilitasi.
(b)Kaji derajat dukungan yang ada untuk pasien.
(c)Diskusikan persepsi pasien tentang diri dan hubungannya dengan perubahan dalam pola/peran fungsi yang biasanya.
(d)Dorong partisipasi dalam aktivitas sehari-hari.

5)Resiko infeksi berhubungan dengan terputusnya kontinuitas jaringan akibat prosedur pembedahan.
Intervensi
(a)Lakukan perawatan luka dengan teknik aseptik
(b)Inspeksi luka,perhatikan karakteristik drainase.
(c)Awasi tanda-tanda vital.
(d)Kalaborasi Pemberian antibiotik.

Previous Next

Leave a Reply